FGD PHW Reimagined Dorong Inovasi Edukasi Visual Bahaya Rokok untuk Generasi Z di Kota Medan

IMG-20260813-WA0024_1

MDN|JNNews.my.id-Perkembangan media digital mendorong perlunya perubahan dalam cara menyampaikan edukasi kesehatan kepada generasi muda.

Pesan mengenai bahaya rokok dinilai tidak cukup hanya disampaikan melalui pendekatan konvensional, tetapi perlu dikemas secara kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan karakter Generasi Z.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema “PHW Reimagined: Inovasi Edukasi Visual Bahaya Rokok untuk Generasi Z di Kota Medan”, yang diselenggarakan oleh Indonesia Tobacco Control Research Network (ITCRN) pada Rabu, 22 Juli 2026, di Kota Medan, mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.

 

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari akademisi, dosen, peneliti, organisasi masyarakat hingga berbagai elemen yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan masyarakat dan pengendalian tembakau.

Salah satu pihak yang turut berperan dalam pelaksanaan kegiatan adalah Dr. Aminuddin Marpaung, S.Sos., M.A., CIP., Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol), Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI), Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan.

Dr. Aminuddin: Edukasi Harus Mengikuti Perubahan Generasi

Dr. Aminuddin menilai perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat, khususnya generasi muda, menerima dan memahami informasi.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian ketika menyusun strategi edukasi kesehatan.

“Kita melihat bahwa pola komunikasi masyarakat sudah mengalami perubahan. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital dan berbagai bentuk konten visual. Karena itu, cara kita menyampaikan edukasi juga harus mampu mengikuti perubahan tersebut,” ujar Dr. Aminuddin.

 

Ia menjelaskan bahwa edukasi visual memiliki peluang besar untuk menyampaikan pesan kesehatan secara lebih sederhana dan mudah dipahami.

 

Namun, menurutnya, inovasi visual tidak boleh hanya mengejar tampilan yang menarik. Substansi dan pesan yang disampaikan tetap harus menjadi perhatian utama.

“Visual itu bukan hanya persoalan bagaimana membuat sesuatu menjadi menarik. Yang lebih penting adalah bagaimana visual tersebut mampu menyampaikan pesan dengan jelas, memberikan pemahaman, dan membangun kesadaran. Jadi kreativitas harus berjalan bersama dengan substansi dan pengetahuan,” jelasnya.

Jangan Berhenti pada Diskusi

Dr. Aminuddin juga menekankan bahwa FGD yang mempertemukan akademisi, dosen, peneliti dan berbagai elemen masyarakat harus menghasilkan sesuatu yang dapat ditindaklanjuti.

Menurutnya, forum diskusi seharusnya tidak berhenti pada pertukaran pendapat, tetapi menjadi ruang untuk melahirkan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi program edukasi nyata.

 

 

“Kita tidak ingin FGD ini hanya menjadi tempat orang berkumpul dan berdiskusi. Harapannya, ada gagasan yang bisa kita bawa ke tahap berikutnya. Kita ingin ada inovasi yang dapat dikembangkan, diuji, dan kemudian digunakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga melihat pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyampaikan pesan mengenai bahaya rokok.

 

“Persoalan kesehatan masyarakat tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Akademisi memiliki peran dalam menghasilkan pengetahuan dan penelitian, organisasi masyarakat memiliki kedekatan dengan masyarakat, sementara berbagai komunitas dan generasi muda juga memiliki peran penting. Semua harus bisa berkolaborasi,” ungkapnya.

Pentingnya Melibatkan Generasi Z

Lebih lanjut, Dr. Aminuddin mengatakan bahwa generasi muda tidak seharusnya hanya menjadi sasaran edukasi, tetapi juga perlu dilibatkan dalam proses menciptakan pesan kesehatan.

Menurutnya, keterlibatan Generasi Z dapat membuat materi edukasi menjadi lebih dekat dengan kehidupan dan bahasa komunikasi mereka.

“Generasi Z jangan hanya kita tempatkan sebagai objek yang menerima pesan. Mereka juga harus diberikan ruang untuk ikut memikirkan bagaimana pesan tersebut disampaikan. Mereka memahami ruang digitalnya, memahami bagaimana sebuah konten diterima, sehingga keterlibatan mereka sangat penting,” tuturnya.

Ia berharap pendekatan tersebut dapat membuat edukasi mengenai bahaya rokok menjadi lebih relevan dan tidak terasa sebagai pesan yang jauh dari kehidupan anak muda.

“Kalau kita ingin pesan itu diterima, kita harus memahami siapa yang menjadi penerima pesan. Kita harus memahami bagaimana mereka melihat informasi, apa yang menarik perhatian mereka, dan bagaimana pesan tersebut dapat disampaikan secara bertanggung jawab,” tambahnya.

LSM Layar Hukum dan Keadilan Sumatera Utara Berikan Dukungan

Dalam kegiatan tersebut, LSM Layar Hukum dan Keadilan Sumatera Utara juga turut hadir, berpartisipasi, dan mendukung suksesnya pelaksanaan FGD.

Ketua LSM Layar Hukum dan Keadilan Sumatera Utara, Soeandi Malik Pratama, turut menyampaikan paparan dan memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

Soeandi menilai forum yang mempertemukan akademisi, peneliti dan berbagai elemen masyarakat merupakan langkah positif dalam memperkuat edukasi publik.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurut kami, edukasi mengenai bahaya rokok memang harus terus dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan sesuai perkembangan generasi muda,” ujar Soeandi.

Ia menyampaikan bahwa LSM Layar Hukum dan Keadilan Sumatera Utara siap mendukung berbagai kegiatan positif yang berkaitan dengan edukasi dan kepentingan masyarakat.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Menanggapi dukungan tersebut, Dr. Aminuddin menilai keterlibatan organisasi masyarakat merupakan bagian penting dalam memperluas dampak dari kegiatan edukasi.

“Kami tentu mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak. Ketika organisasi masyarakat ikut hadir dan memberikan pandangan, diskusinya menjadi lebih kaya. Kita mendapatkan perspektif yang tidak hanya berasal dari ruang akademik, tetapi juga dari pengalaman dan kondisi masyarakat,” katanya.

Ia berharap hubungan antara akademisi, peneliti dan organisasi masyarakat dapat terus dikembangkan setelah kegiatan FGD selesai.

“Yang kita perlukan ke depan adalah kesinambungan. Jangan setelah kegiatan selesai kemudian berhenti. Justru setelah FGD ini kita harus melihat apa yang bisa dilakukan bersama, apa yang bisa dikembangkan, dan bagaimana hasil diskusi ini bisa memberikan manfaat lebih luas,” tegasnya.

Dari Gagasan Menjadi Gerakan

Dr. Aminuddin kembali menegaskan bahwa “PHW Reimagined” harus dilihat sebagai upaya untuk mencari cara baru dalam menyampaikan edukasi kesehatan.

Menurutnya, perubahan tidak selalu dimulai dari program besar. Perubahan dapat dimulai dari gagasan sederhana yang kemudian dikembangkan melalui kerja sama.

“Kita ingin membangun sebuah cara berpikir bahwa edukasi kesehatan harus terus berinovasi. Kita tidak boleh berhenti pada cara-cara lama ketika masyarakat, khususnya generasi muda, sudah berubah. Inilah pentingnya forum seperti ini,” ujarnya.

Ia berharap hasil diskusi dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk ikut mengambil bagian dalam membangun kesadaran kesehatan masyarakat.

“Kalau satu gagasan bisa dikembangkan oleh banyak pihak, maka dampaknya akan jauh lebih besar. Kita ingin ada gerakan bersama yang menjadikan edukasi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sadar terhadap kesehatan,” pungkas Dr. Aminuddin.

 

FGD “PHW Reimagined” pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang bertukar pemikiran, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, peneliti, organisasi masyarakat dan berbagai elemen lainnya.

Dari Medan, inovasi edukasi kesehatan diharapkan terus berkembang. Dari ruang diskusi, lahir gagasan. Dari gagasan, lahir kolaborasi. Dan dari kolaborasi, lahir perubahan.(PR)